Crochet 101 History & Archaeology

Sejarah Crochet

 

crochet_Sebelum mulai menekuni crochet, ada baiknya untuk tau sedikit tentang sejarah crochet. Believe it or not, untuk ngomongin sejarah crochet sendiri agak susah nyari artikel di inet yang compact dan concise about this. Maafkan, berhubung darah arkeologi saya masih kental dan menggelegak, topik ini menjadi satu hal yang cukup menarik, selain hal-hal yang berhubungan dengan skeletal remains. Haha. Artikel ini adalah versi lain dari artikel yang saya tulis untuk suatu majalah. Sedikit banyak beda, mudah-mudahan tidak termasuk dalam self plagiarism.

Crochet dalam Bahasa Indonesia terkadang diterjemahkan menjadi “merajut”, namun istilah ini menjadi rancu karena “merajut” juga terjemahan dari knitting. Sehingga ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa terjemahan paling pas untuk istilah crochet adalah merenda. Kata crochet berasal dari bahasa Perancis (Middle French), “croc“, yang berarti mengait; tentunya berhubungan dengan proses pembuatan bahan dengan mengaitkan benang pada jarum dan menjalinnya sehingga membentuk suatu garmen yang dapat dipakai. Pada perkembangannya, produk yang dihasilkan dengan teknik crochet ini tidak terbatas pada garmen yang dapat dipakai setiap hari, namun juga aksesoris dan perlengkapan rumah tangga. Crochet yang termasuk dalam bentuk kerajinan tangan ini berkembang pesat di Eropa dan mendapatkan istilah tersendiri dalam masing-masing bahasa. Mengetahui macam-macam sebutan crochet di seluruh dunia akan membantu kamu saat mencari pattern di Google SUMPAH! Yuk, kita lihat terjemahan dari masing-masing bahasa.

  • Dalam bahasa Belanda, crochet dikenal dengan sebutan haken; banyak banget pattern dalam bahasa ini.
  • Dalam bahasa Spanyol dikenal dengan sebutan gancho atau ganchillo; pattern juga banyak beredar di Google dalam bahasa ini.
  • Bahasa Italia mengenal istilah uncinetto; idem. Sumpah ampe bingung milih patternnya.
  • Bahasa Yunani menyebutnya dengan βελονάκι alias velonáki; naaah, jarang nih.
  • Kalo cari pattern dalam bahasa Rusia, coba Google dengan ini: вязанье
  • Pattern cantik-cantik lainnya adalah dalam bahasa Polandia, yaitu (my favourite, ever!!) szydelkowanie, szydelkowie, szydelkowa

Have fun crochet pattern hunting!!

Paragraf di atas menyebutkan bahwa crochet dan knitting itu adalah dua hal yang berbeda. BETUL! Saya sangat gatel sekali kalo ada yang masih bilang ini adalah dua hal yang sama. Tidak salah, kalo crochet dan knitting sama-sama menggunakan benang dan jarum. Namun, teknik dan jarum yang digunakan sama sekali berbeda. Let’s see:

1. Knitting, merupakan verb dari “knit” dalam Bahasa Inggris, artinya adalah

to make (a piece of clothing) from yarn or thread by using long needles or a special machine (Merriam-Webster Dictionary)

2. Crochet, definisinya adalah

a method of making cloth or clothing by using a needle with a hook at the end to form and weave loops in a thread. // needlework consisting of the interlocking of looped stitches formed with a single thread and a hooked needle (Merriam-Webster Dictionary)

Nah, dari kedua definisi tersebut jelas terlihat bahwa crochet dan knitting adalah dua hal yang berbeda. Namun, belum tentu orang yang bisa crochet, bisa juga knitting. Sistem dan terminologi yang digunakan kedua teknik tersebut pun berbeda.

Knitting terkenal dengan penggunaan dua jarum pada saat yang bersamaan, di tangan kanan dan kiri. Sementara crochet hanya menggunakan satu jarum, baik di tangan kanan ataupun tangan kiri (tergantung kamu kidal atau nggak). Jadi, jangan ketuker lagi yaaa… 

Crochet Masa Lalu

Ngomongin sejarah crochet sama sekali ngga bisa lepas dari kerajinan-kerajinan yang dibuat dengan menggunakan jarum dan benang lainnya. Crochet merupakan bentuk kerajinan yang sejenis dengan bordir, cross stitch, atau menyulam yang sudah terkenal sejak zaman dahulu.

Sekarang saya akan coba ceritakan sedikit hasil riset saat bikin paper tentang manusia purba waktu saya masih jadi full-time archaeologist dulu. Kalo mau mundur jauuuuuuuuuuuuuuuuuh banget, yuk bicara tentang munculnya jarum pertama kali pada masa Solutrean di Eropah sana. Saat itu dunia super dingin dan manusia mulai bingung gimana caranya untuk bertahan hidup dalam udara model gitu. Somehow, they came up with the idea to sew clothings! Yay!!! Badan tidak dingin-dingin amat, dan kegiatan mencari makan puuuun bisa terus berlanjut (baca: Solutrean hypothesis, Trans-atlantic migration, etc.). Meskipun demikian, sedikit sekali bukti-bukti arkeologis yang dapat mendukung kapan awal mula hal ini muncul, sebab bahan dasar yang digunakan merupakan bahan organik yang mudah hancur. Pada perkembangannya, jarum terbuat dari bahan-bahan seperti kayu, gading, dan tulang hewan. Hence, cepet hancur. Pastinya kalo beruntung nemu ini di dalam kotak ekskavasi, bisa-bisa tumpengan. Hehehe. Gimana sih, bentuk awal jarum? Nih, ada fotonya…

prehistoric_needles (1)

medieval_needlework (1)Fast forward to the medieval era, masih di kawasan Eropah sana. Kerajinan menggunakan jarum dan benang ini belum dikenal dengan istilah crochet. Dalam dunia art history, kerajinan ini masih termasuk ke dalam kategori needlework atau needleart. Bukti-bukti yang mendukung adanya kerajinan ini pada medieval era di Eropa adalah dari gambar-gambar pada manuskrip dan naskah-naskah kuna. Beberapa ahli masih berdebat mengenai daerah asal di mana crochet pertama kali dipraktikkan. Ada beberapa ahli yang menyebutkan bahwa crochet sudah dikenal sebelum tahun 1500 SM dengan melihat bukti-bukti berupa tekstil yang merupakan hasil kerajinan yang dibuat oleh biarawati-biarawati di Eropa (Sellick, ny.). Lis Paludan (1995) memperkirakan bahwa crochet dapat berasal dari wilayah Iran, Amerika Selatan, ataupun Cina; sebab beberapa produk ditemukan di sana. Dalam bukunya, Paludan berkesimpulan bahwa hampir mustahil untuk benar-benar mengetahui dari mana crochet berasal, simply because we have yet enough evidence. Ada pula teori-teori yang menyebutkan bahwa crochet berasal dari negara-negara Arab yang menyebar ke wilayah Tibet dan kemudian ke arah Spanyol, sesuai dengan rute perdagangan negara-negara Arab pada masa itu. Teori lain menyebutkan pula bahwa crochet berasal dari Amerika Selatan dengan melihat penggunaan aksesoris-aksesoris yang digunakan pada ritual perayaan akil balig pada beberapa suku di sana. Sementara itu, di wilayah Cina pun ditemukan boneka-boneka yang terbuat dengan teknik crochet pula. Dari seluruh teori-teori tersebut, nampak bahwa bentuk kerajinan tangan crochet berkembang di dalam seluruh kebudayaan yang ada di dunia, meskipun pada waktu dan penyebutan yang berbeda.

CrocheRiegoPortraitt mulai dikenal sebagai suatu kerajinan yang beda dari knitting pada abad 17 di wilayah Eropa. Mademoiselle Eleonore Riego de la Branchardiere lah yang mulai memperkenalkan dan mengaplikasikan bobbin lace serta memodifikasinya ke dalam pola-pola yang mudah direplika. Nah, ketika itu pulalah, crochet pattern mulai berkembang dan disebarluaskan kepada para peminatnya. Mlle. de la Branchardiere ini sangat produktif loh! Buku pertamanya, “Knitting, Crochet, and Tatting” diterbitkan tahun 1846 saat dia berusia 12 tahun (!!) (sumber). Selama hidupnya, Mlle. de la Blanchardiere berhasil menerbitkan setidaknya 72 buku berisi pola-pola yang kemudian menjadi trendy di masa itu. Salah satu buku yang sudah saya baca adalah terbitan tahun 1877 dan astaga, ternyataaa…. terminologi yang beliau pakai PUN rada berbeda dari terminologi yang kita gunakan sekarang, sehingga harus diterjemahkan padanannya. Hahaha. Ampun, deh. Butuh waktu tersendiri untuk membaca semua buku terbitan Mlle. de la Branchardiere ini. Sebab tidak semuanya sudah “diterjemahkan” ke dalam terminologi modern yang kita gunakan sekarang. Dan oh please… bobbin lace? Saya tidak sesabar yang Anda duga! Hahahahaa. Selain Mlle. de la Branchardiere ada pula beberapa crochet artist yang ikut memopulerkan jenis kerajinan ini, seperti Frances Lambert dan lain-lain.

monmouthCrochet pernah menjadi trend di kalangan aristokrat Eropa, termasuk di Inggris. Dua tokoh sejarah penting yang tercatat menggemari produk-produk yang diknit atau dicrochet adalah Queen Elizabeth I dan Queen Victoria. Memang tidak ada bukti bahwa Queen Elizabeth I menekuni crochet atau knitting pada masa ia hidup, namun Ratu Elizabeth I pernah memandatkan seluruh bawahannya untuk menggunakan topi Monmouth yang diknit. Hukumannya cukup telak kalo melanggar aturan-aturan yang dibikin sama Her MajestyAgain, alasannya adalah untuk melindungi produk-produk bikinan dalam negeri dan mendongkrak penjualan wol pada masa itu. Ide bagus tuh! Patut dicontoh! Topi model ini dibuat di wilayah Archenfield, Herefordshire, yang terkenal dengan bahan woolnya. Topi ini biasa dipakai oleh pelayar, prajurit, dan pekerja pada abad 15-16. Pada tahun 1488, yaitu zamannya Henry VII, diterbitkan Cappers Act yang menyatakan bahwa adalah ilegal untuk mengenakan topi-topi impor di wilayah Inggris. Lebay? Nggak juga sih. Alasannya cukup masuk akal kok: memanfaatkan produk dalam negeri. (Kapan Indonesia bisa saklek begini??)

The Cappers’ Act of 1488 fixed the prices of knitted caps and hats and heavy fines were imposed on anyone wearing a foreign-made cap or hat, half for the King, half for the informer, and in 1512 an Act decreed that ‘…no caps or hats ready wrought should be brought from beyond the seas…’. However, by 1529 Bristol’s cappers were already complaining to the Court of the Star Chamber that cappers from London were threatening the livelihood of hundreds of carders, spinners and knitters in Bristol. The Elizabethan Statute of 1571 was ‘An Act for the Continuance of the Making of Caps’ and it lists fifteen distinct crafts in their manufacture insisting that ‘. ..all above the age of six years except some of certain state and condition, shall wear upon the Sabbath and Holydays, one cap of wool knit, thicked and dressed in England, upon the forfeiture of 3s. 4d….’. Women were similarly restricted, and all Citizens’ wives ‘…were constrained to wear white knit caps of woollen yarn, unless their husbands were of good value in the Queen’s book, or could prove themselves gentlemen by descent…’ This imposition was however resented and ignored with only the conscientious obeying, and the Statute Cap was frequently ridiculed. It did little to help the declining industry, and the Act was finally repealed in 1597.

Sementara dalam hukumnya zaman Elizabeth I:

“…every person above the age of six years (excepting “Maids, ladies, gentlewomen, noble personages, and every Lord, knight and gentleman of twenty marks land”) residing in any of the cities, towns, villages or hamlets of England, must wear, on Sundays and holidays (except when travelling), “a cap of wool, thicked and dressed in England, made within this realm, and only dressed and finished by some of the trade of cappers, upon pain to forfeit for every day of not wearing 3s. 4d.” (Act of Parliament in 1571)

Lain daripada para pendahulunya, Queen Victoria menggemari kerajinan crochet sebagai hobinya. Hal ini berawal pada kejadian saat beliau dihadiahi hasil kerajinan lace crochet dan langsung jatuh cinta. Queen Victoria pun mulai mengintegrasikan lace crochet ke dalam busana yang dipakainya. Pada masa itu, crochet sempat mengalami penurunan trend dan dianggap cupu oleh banyak orang. Namun, karena Victoria mulai terlihat mengenakan lace crochet pada gaun-gaunnya, crochet kembali digemari dan menjadi tidak cupu lagi. Mengikuti leluhurnya, Victoria pun ikut menyarankan penggunaan produk-produk aksesoris yang dicrochet kepada para entouragenya. Beliaupun sering terlihat sedang bersantai dan tekun mengerjakan project crochetnya sendiri. Beliau bahkan membuatkan delapan scarf untuk sejumlah prajurit terbaiknya yang berdomisili di Afrika Selatan (Mall, 2012). Scarf ini masih dapat disaksikan di Canadian War Museum.

sumber: Mall, 2012

sumber: Mall, 2012

 

Bentuk kerajinan crochet pernah membantu orang-orang Irlandia yang terkena wabah kelaparan saat kentang-kentang di kebun mereka gagal panen pada pertengahan abad 17 (Bronstein, 2005). Masyarakat Irlandia pada masa itu mulai membudayakan crochet, dan menjual hasil-hasil karya mereka untuk ditukarkan dengan makanan, baik kentang (yang susah banget didapet) atau makanan selain kentang; yang penting, mereka bisa bertahan hidup.

Crochet Masa Kini

Audrey Hepburn

Audrey Hepburn

Crochet tetap merupakan salah satu kerajinan yang populer pada masa kini, terutama di negara-negara empat musim, dan sekarang mulai menjadi suatu trend di Indonesia. Kerajinan ini berkembang pesat di negara-negara empat musim didasari akan kebutuhan mereka untuk mempunyai garmen-garmen tebal yang terbuat dari wol untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin. Indonesia yang juga tak kalah kaya dengan jenis-jenis kerajinan tangan mungkin tidak begitu mengenal crochet seperti halnya kerajinan tenun yang lazim ditemui. Nampaknya kerajinan crochet dibawa oleh kebudayan Belanda pada masa pendudukannya dan kemudian berkembang hingga saat ini. Sayangnya, untuk beberapa dekade (senggaknya sejak saya hidup sampe sekarang), crochet masih memiliki stigma bahwa hanya Oma-oma yang (pantas) mengerjakannya. Cih! Sorry, ya… Hehehehe. Bagusnya, beberapa tahun terakhir stigma ini mulai meluntur, sebab sudah mulai banyak perempuan muda yang juga menekuni kerajinan ini. Trend ini mungkin disebabkan oleh gencarnya gerakan DIY (do-it-yourself) dan didukung pula dengan adanya platform-platform seperti Pinterest yang menjadi perpustakaan bagi berbagai jenis kerajinan tangan. Begitu pula dengan beberapa figur publik terkenal seperti Katy Perry, Audrey Hepburn, Eva Longoria, Alyssa Milano, Madonna, Katherine Heigl, dan Aretha Franklin pun diketahui menekuni hobi crochet.

fashion_crochet (1)

Kerajinan crochet yang mendunia saat ini, mengalami banyak perkembangan, baik dari segi teknik ataupun materialnya. Bahkan, crochet pun sekarang dapat diselami dari sisi psikologis dan filosofisnya pula. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kerajinan crochet dapat membantu mengurangi depresi dan stres dalam kehidupan sehari-hari. Seiring dengan perkembangan ini, muncul pula desainer-desainer crochet yang erat hubungannya dengan keragaman fashion. Beberapa desainer terkenal pun mulai mengaplikasikan crochet pada karya-karya high fashion, seperti Miu Miu, John Rocha, dan Moschino.

Buset!!

Gini nih, kalo keasikan riset artikel. Hahaha. Lebay jadinya isi artikel ini. I seriously had fun doing the research on history of crochet. I have found more things I had not known before and I am happy to share it with you. Nahh, sekarang bisa cerita dehhh sama temen-temen kalo ditanya kenapa menekuni hobinya Oma-Oma… Hehehehe… Because darlings, gak cuma Oma-Oma yang boleh merajut, kita juga dooong! 🙂

 

References:

  • Bronstein, Zelda. 2005. The Art that Saved the Irish from Starvation. Berkeley Daily Planet. (link)
  • Marks, Ruthie. 1997. History of Crochet. (link)
  • Paludan, Lis. 1995. Crochet: History and Technique. Interweave Press Inc. (buy here)
  • The Online Tatting Class Celebrates Tatting and the Life of Tatter Myrtle Hamilton (1895 -2003) (link)
  • Sellick, Michael. ny. Evolution of Crochet. (link)
  • The Cappers Act, 1488. (link)
  • Mall, Melissa. 2012. Crochet in History: Queen Victoria. (link)
  • L’histoire du Crochet. (link)
  • Historia del crochet (link)
  • Crochet. Wikipedia. (link)

 

signature

Leave a Comment