Personal Notes

Kotak, Square, Kubus, Persegi… BAH!

Plaid atau checkerboard bukan hanya salah dua dari motif tekstil yang sedang kembali in di kalangan muda. Ada satu kebiasaan manusia yang sulit diletakkan pada tempat yang sepantasnya, mengkotak-kotakkan, melabel, mengkategorikan, dan membangun persepsi atas orang lain. Seberapa jauh sih, manusia harus dan berani melakukan kegiatan-kegiatan tersebut?
 
Artikel Psychology of Prejudice: Why Do We Categorize People? yang ditulis oleh Kristen May menyebutkan bahwa memang diperlukan kemampuan bersosialisasi dengan mengkategorikan orang-orang yang ada di sekeliling kita. Hal ini merupakan 
 
… an efficient, useful way to recognize people, both for day-to-day convenience and in life and death situations when quick judgments need to be made about how to act. 
 
Namun terkadang manusia suka lupa (hayo, yang masih pengen ngaku jadi manusia…) bahwa hal penting yang harus juga dilakukan dalam mengkategorikan manusia lain adalah dengan menggunakan persepsi, yang terkadang dapat juga bersifat menghakimi (baca: judgmental). Perilaku ini jelas diaplikasikan untuk memperoleh wilayah nyaman yang tentunya akan menyenangkan bagi pergaulan sehari-hari kita sebagai manusia sosial.  Intinya sih, mencari kesamaan di dalam keragaman, sebab manusia butuh untuk merasa aman, nyaman, dan tentram di dalam kehidupannya, entah mengapa begitu.  
 
Kemudian pertanyaannya adalah, seberapa pentingkah pengkategorian ini harus terjadi? Pada sisi manakah perilaku pengkategorian ini harus bersinggungan dengan tata krama dan tata cara bergaul yang sesuai dengan norma kesopanan dan adat di lingkungan yang berlaku? 
 
Bagi saya hal ini terkait erat dengan urusan bercermin diri, bertepa salira dan bertenggang rasa (rasanya, sama aja…) dengan sekeliling. Bahkan kepada semut dan nyamukpun saya berusaha untuk juga bertenggang rasa. Sedikit, mungkin, kaitannya; saya pernah berbagi cerita dengan salah seorang adik kelas yang bertanya apa yang saya dapatkan dengan mendalami mata studi osteologi manusia. Pertanyaan itu saya jawab dengan, 
 
“…bahwasanya semua manusia itu sama saja, terdiri dari daging, darah, dan tulang. Apapun warna kulit, rambutnya, bagaimanapun perilakunya selama hidup, seberapa gendut, kurus, ceking, jelek, atau gantengnya dia semasa hidup, semua itu hanya seonggok tulang belulang saat sudah mati. Apa yang berbeda?” 
 
Pelajaran ini yang membuat saya membenci (padahal mulai melabel sendiri…) segala sikap dan sifat yang mengkotak-kotakkan, melabel, ataupun mengkategorikan, apalagi yang berhubungan dengan bentuk fisik (baca: bentuk tubuh dan ras). Tingkat tepa salira saya cenderung rendah dalam hal-hal seperti itu, karena bagi saya, hal-hal tersebut hanyalah bagian dari keterangan yang saya cantumkan di dalam laporan analisis penelitian. Tidak lebih.
 
Namun hidup adalah proses, kan? Sebelum mencapai tahap menjadi tulang belulang, manusia harus menjalani hidup dan di tengah proses inilah pertemuan dengan manusia-manusia lain terjadi.  
 
Saat ini, situs-situs berfitur koneksi sosial menawarkan pilihan untuk mengkategorisasikan daftar teman pada akun Anda sendiri. Wah! Betapa pergeseran itu terjadi sehari-hari! Betul bahwa kategorisasi ini kemudian tidak memerlukan konfirmasi dari individu yang bersangkutan, namun silakan bayangkan akibatnya apabila Anda sudah sangat terbiasa mengkategorikan TEMAN ANDA SENDIRI, orang-orang yang sudah ANDA pilih untuk bergaul.

Pertanyaan berikutnya adalah: sejauh mana Anda akan mengkategorisasikan pertemanan Anda, entah itu di dalam situs-situs sosial, atau di dalam kehidupan nyata? Seperti apa Anda akan membuat kategori teman-teman Anda? Apakah Anda akan membuat list seperti: ‘daftar teman untuk dijauhi’, ‘daftar teman untuk dicurangi’, ‘daftar teman untuk dibodohi’, ‘daftar teman untuk dipacari’, ‘daftar teman untuk dikacungi’?

Bisa jadi urusan mengkategorisasikan teman ini tidak akan menjadi masalah ketika dilakukan di dalam opsi-opsi pada situs sosial. Namun jika Anda bablas dan melakukannya PULA di kehidupan nyata, akan seperti apakah jadinya? Bayangkan saja sebuah pesta megah dan meriah, namun tetamunya hanya mau mengobrol dengan orang-orang yang mempunyai kesamaan dan sama sekali menolak untuk mengobrol dengan orang lain yang tidak mempunya kesamaan. Hampir pasti si empunya hajat akan sedih melihat pestanya terkotak-kotakkan seperti itu. kalau saja pergaulan sosial itu adalah sebuah pesta dan hal yang sama terjadi, apakah hidup Anda menarik? Sebegitu egoisnyakah (lho, prejudis lagi! hahaha) Anda hingga tidak ingin mengetahui sudut  pandang yang berbeda dari orang lain?

Nah, kategorisasi-kategorisasi ini lah yang kemudian memunculkan adanya kelompok mayoritas dan minoritas. Sudah terlalu banyak contohnya di laman-laman berita untuk dibahas pada esai ini. Berlaku juga kemudian prejudis-prejudis terhadap masing-masing kelompok yang kemudian memicu perlakuan-perlakuan yang bervariasi. 

Kategorisasi terjadi kapanpun dan di manapun serta oleh siapapun. Hal sepele hingga hal rumit bisa saja menjadi variabel yang dapat dikategorisasikan. Dari perokok hingga ibu hamil, lansia dan pemuda, hitam dan putih, dan lain sebagainya. Bahkan di dalam ilmu arkeologi pun kategorisasi digunakan sebagai salah satu metode pertanggalan relatif artefak, sebelum akhirnya menghasilkan produk seriasi. 

Penting untuk diingat bahwa terkadang kategorisasi ini memicu bias yang terjadi pada prejudis manusia dan menimbulkan adanya standar ganda. Hal ini biasanya terjadi pada individu yang dikategorisasikan (NAH!) sebagai orang yang tidak punya pendirian sendiri. Yang harus dihati-hatikan adalah ketika perilaku ini diaplikasikan secara ekstrim, sehingga menghambat kedinamisan bergaul kita sendiri. Sekali lagi manusia bisa membiarkan prejudis-prejudis pribadi untuk memilih dengan siapa ia bergaul. Menurut saya pribadi, pengaruh orang tua, lingkungan, luasnya pengetahuan non-kognitif dan kognitif, serta pengalaman hidup lain menjadi bahan-bahan pertimbangan penting untuk melakukan prejudis ini. Dunia sangat kaya dengan berbagai jenis manusia dengan bermacam tingkah-laku yang memang terkadang berbenturan dengan prinsip dan modal hidup kita. 

Poin berikutnya dalam tema kategorisasi ini adalah munculnya stereotipikal-stereotipikal yang sangat mendukung perilaku mengkotak-kotakkan. Tidak dapat dipungkiri, semenjak terjadinya peristiwa 9/11 hal ini semakin meruncing di sudut dunia manapun. Baiknya mengambil contoh yang dekat-dekat saja. 

Mari lirik dunia arkeologi. Man the Hunter and women the gatherer. Cukup familiar kan, dengan model stereotip yang satu ini? Bagaimana kemudian gerakan faham arkeologi feminis menentang dengan keras bahwa hanya laki-laki yang berperan penting dalam kehidupan ‘sosial’ masyarakat berburu dan meramu? Hmm? Get the point? Oke, mari lirik lagi yang lebih dekat. Pengkategorian peminatan pada prodi Arkeologi di perguruan tinggi juga merupakan salah satu contohnya. Hal ini tentunya baik dalam hal efisiensi metode pengajaran dan proses transfer ilmu di dalam institusi yang bersangkutan. Di atas kertas dan di dalam kelas hal ini terbukti efektif. Namun, apa yang terjadi di bawah kertas dan di luar kelas? Slentingan pembicaraan seperti, ‘Wah, anak prasejarah jalan mulu ya ke situs?’ dan ‘Ah, palingan anak prasejarah juga yang lanjut ke luar negeri…’ – ujar yang mengambil peminatan non-prasejarah. Atau senthilan seperti, ‘Halah, ngapain tuh ngerjain tesis osteologi manusia Masa Pertengahan Eropa? Gak ada prasejarah-prasejarahnya sama sekali.’ – ujar seseorang di tengah ngos-ngosannya saya mengejar deadline.
[PARAGRAF INI DITULIS TIDAK DENGAN MAKSUD LAIN, SELAIN MAKING A POINT OF THE TOPIC. MOHON DIGUNAKAN KEBIJAKANNYA DALAM MELANJUTKAN BACAAN ANDA]

Hhhh… padahal seharusnya pengkategorisasian ini punya maksud dan manfaat baik. Untungnya sih, pada kenyataannya bukan berarti bikin gerombolan mahasiwanya jadi terKOTAK-KOTAK sesuai dengan label peminatannya di kelas. Nongkrong sih, nongkrong aja…

Memang sulit untuk menjadi manusia yang sempurna pada hakikatnya. Berbuat baik untuk lingkungan dan orang lain belum tentu juga merupakan perbuatan baik untuk diri sendiri. Hal yang paling bijak dilakukan menurut saya adalah dengan menjaga hati, persepsi, dan perkataan. Tentunya semua butuh latihan dan terkadang permasalahan yang muncul di dalam hidup adalah ajang latihan-latihan tersebut. Mari kita mengkategorisasikan dengan bijak orang-orang dan hal-hal yang terjadi di dalam hidup. 

Ingin tahu, saya mengikuti suatu kuis online pada website mengenai prejudice attitudes dan saya mendapatkan hasil seperti ini:

 
You scored 67 implicit bias, 45 explicit bias, and 65 honesty
Push Yourself  >> You could be bold and brave- owning your prejudice and willing to work on it, day after day. You could embody the spirit of social justice and continue to challenge yourself to grow even when it’s painful. All that’s missing is a little more honesty and quite a bit more humility. Keep at it and good luck!  
“Explicit Bias” is the obvious bigotry that is easy to identify. Think “Jerry Springer Show” brand of bigotry. You know, the KKK, the Minutemen, it’s not tough to see it!  
“Implicit Bias” (AKA “Hidden Bias”) means that (to the extent of your score) you have biased attitudes against others that you haven’t addressed or challenged. Chances are, you haven’t even identified them yet. And you should. Because implicit bias is the most insidious form of bigotry- it hurts others constantly and upholds the systems of oppression in fundamental ways that Explicit bias can’t even touch! So, do your work and challenge yourself- don’t be afraid to be uncomfortable or unpopular as you look for that big old beam in your own eye. Then you can start to look at the eyes of others!  
Honesty While there’s no way I can really tell if you were being honest, I used implanted honesty checkers that indicated how honest you were probably being. If I was off on that, so be it- it was an “honest” mistake! LOL But if you scored low on Honesty, you might want to take a good look in the mirror and ask yourself how honest you really were- maybe there are some areas that you could face a little more truthfully and boldly?

Sekali lagi saya berselancar jauh dan berikut kuis kecil yang saya dapat hasil berselancar di lautan maya:

How prejudiced are you?

Do you implicitly prefer good looking people? How often do you say beauty is all in the brain and in the heart but think otherwise? Have you harbored unrecognised misconception about the people with thick accents? Do you consider people incompetent and dumb just because they come from a public school? Of course not, instead we think of ourselves as good and loving humans. But the space between what you’d like to believe and what exactly you are is the line which harbors the P word- prejudice. Take our quiz and find out if you are prejudiced?

 

1. A guy is staring at you withdrawing money from your ATM account you:
A. Think he’s going to kill you for the money.
B. Think he’s a hillbilly.
C. Think, what are eyes for? 

 
2. Your view of Brokeback Mountain was:
A. I’d better not watch it.
B. Why did they even make a film on gay people?
C. Just another movie.
 
3. If you were a doctor and had to save only one of the following three patients with the same disease which one of them would you save?
A. Obviously the one who’d would pay you the most.
B. A good-looking guy or a girl.
C. The young person.
 
 
4. You see a fat lady walking down the road you:
A. Show the fucche Coca-Cola bottle.
B. Show her the jumbo Coca Cola bottle.
C. Don’t really bother her.
 
5. Which one of these people according to you were more of a Saint?
A. Pope John Paul
B. Adolf Hitler
C. Mother Teresa
 
6. Are you quick to judge people on the basis of their surname?
A. Yes
B. Certain People
C. No

7. What is the best strategy in war?
A. Kill indiscriminately.
B. Kill one specific race.
C. Don’t even kill a bug.

HOW TO MEASURE ANSWERS:
More As: You don’t speak your mind and you also don’t know what’s actually in your mind. You are goody-goody from the outside but from the inside you do harbour some preconceptions about people. You might have heard prejudiced comments while you grew up and that is why it’s hard for you to resist it right now. But you certainly aren’t prejudiced to the level like Hitler was and there’s no way that you’d believe in ethnic cleansing.

More Bs: You argue about your point on which race is best and have special hatred towards certain people. You also wish you could wipe away the ones you hate. You don’t miss pointing fingers at people you hate, give them nasty names and make fun of them. You need help with your prejudiced attitude.

More Cs: You don’t pre-judge people or go along with the crowd when people are being unfair to someone. You try to know people as individuals before you decide whether or not you like them. Even while treating people you take care and treat them the way you like to be treated yourself. You are more global and you love the world as much as you love your own country and its people. Hate hurts – and you live by it.

 
 

Leave a Comment